Minggu, 07 April 2013

Aku Delete Saja

Punya sikap menunjukkan punya cermin soalnya sikap itu cerminan diri kita. Ada saat di mana mau ngambil sikap aku delete saja juga menunjukkan cermin diri.  Sikap itu emang akarnya ke dalam tapi buahnya ke luar. Ada sikap yang dipikir cetek tapi buahnya gak secetek yang dipikirkan. Bisa berimbas macem-macem.

Dalam sebuah hubungan, entah itu hubungan dengan teman ato sahabat ato keluarga ato sama rekan kerja ato sama guru ato hubungan spesial dengan pacar pun dibutuhkan sikap-sikap tertentu, bukan sikap-sikapan belakan loh tapi sikap beneran, inget loh sikap kita adalah cerminan siapa diri kita. Catet!

Gara-gara bete sama sesuatu trus ngimbas juga ke kualitas hubungan trus milih aaaah mending aku delete saja dia ato mereka dalam hidupku daripada pusing! It’s OK kalo mau delete tapi bukan berarti tanpa maaf dan klarifikasi. Pikirin juga imbas ke depannya. Pernah denger gak sebuah pepatah bijak yang bilang ‘Jangan membakar jembatan karena suatu hari kita akan membutuhkan jembatan itu untuk menyebrang.’ Itu baru satu pepatah aja.

Keputusan yang kita lakukan adalah sikap kita yang mencerminkan diri kita. Keputusan emang harus diambil kalo mau ada perubahan cuman bukan berarti asal memutuskan , bisa-bisa nih ya yang tadinya mau urusan beres malah lebih panjang ruwet rewelnya. Gak mau kan?

Misalnya neh ya, bersahabat udah lama offline juga online. Trus ada salah pengertian, trus buru-buru delete dia sebagai friend dari Facebook misalnya, gak cuman itu aja, tapi juga melakukan serangan virtual melalui status-status sindiran dan curcol yang gak bermutu banget, aduuuuh plis don’t do that.

Sebel sih sebel. Eneg sih eneg. Tapi jangan sampe sebel eneg itu kekuatannya lebih besar daripada kualitas otak waras.

Sebelum delete siapa pun dalam hidup kita, pikir dulu baik-baik dan kalo pada akhir proses berpikir bahwa ngedelete itu adalah yang terbaik, well mending yang di delete duluan adalah pikiran buruk yang bersarang dalam diri kita. Udah gitu, temuin dan bicara baik-baik. Setiap niat baik yang dibarengi dengan tindakan nyata yang tulus pastinya akan menghasilkan, gak akan sia-sia.

Bukan cuman belajar nge-delete pikiran buruk dan negatif dalam diri kita aja sih, tapi juga sediakan alat delete buat nge-delete kesalahan orang lain yaitu memberi pengampunan ato maaf. Memaafkan atau mengampuni bukan berarti harus selalu mengambil konsekuensi yang harus dihadapi loh ya.

Kalo kita udah sebel  bete habis sama lingkaran gaul yang begitu-begitu aja trus mikir kita mau bangkit keluar biar ada kemajuan dan mau berani tampil beda supaya lebih baik dan positif, ya emang harus berani mengubah sesuatu tapi bukan berarti tanpa hati juga ya.

So, pikirkan sebelum nge-delete. Sekalipun mereka yang bakal di-delete itu bukanlah orang-orang yang teritung penting dalam mengaruhi hidup kita, cari jalan lain yang lebih baik daripada nge-delete kayak jaga jarak namun tetap baik tanpa melakukan permusuhan

0 comments:

Posting Komentar

KATAKAN APA YANG INGIN KAU KATAKAN, TULIS APA YANG INGIN KAU TULIS, SIMPAN APA YANG DAPAT KAU SIMPAN DARI BLOG INI :)

 
;